Warisan dari Akar Ketela: Kisah Keripik Tette yang Bertahan di Tengah Gempuran Camilan Pabrikan

Hi Biters! — Suara tumbukan kayu terdengar berirama dari salah satu sudut pemukiman warga di Madura. Di halaman rumah sederhana, beberapa lembar ketela rebus yang telah dipipihkan berjajar rapi di atas anyaman bambu, menunggu panas matahari mengeringkannya. Aroma singkong yang baru direbus bercampur dengan semilir angin pesisir, menghadirkan suasana khas dapur-dapur rumahan penghasil keripik tette.

Proses Manual Penuh Kesabaran

Di tengah maraknya camilan instan dan makanan ringan pabrikan, keripik tette masih bertahan sebagai salah satu jajanan tradisional khas Madura yang digemari berbagai kalangan. Bagi masyarakat setempat, camilan berbahan dasar ketela pohon ini bukan sekadar makanan ringan, melainkan bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun.

Sinar matahari menjadi tumpuan utama dalam proses pengeringan alami di atas ancak bambu. Cuaca panas Madura justru membantu keripik mencapai tingkat kekeringan paling maksimal. Lembaran putih bersih berubah menjadi kaku siap masuk ke dalam wajan minyak panas.

Penjual menggoreng keripik secara cepat hingga mencapai warna krem pucat nan cantik. Bunyi “kriuk” renyah menyapa setiap gigitan para penikmat camilan tradisional ini. Keripik tette berhasil mempertahankan marwah rasa tanpa campuran tepung maupun bahan pengawet buatan.

Penakluk Lidah Lintas Generasi

Keripik tette dibuat dari singkong pilihan yang direbus terlebih dahulu hingga empuk. Setelah itu, singkong dipotong kecil-kecil lalu ditumbuk menggunakan alat kayu hingga pipih. Proses menumbuk inilah yang dikenal masyarakat Madura dengan istilah ngetette, yang kemudian menjadi asal-usul nama keripik tette.

 

Salah satu pengrajin keripik tette, Ibu Siti Aminah (48), warga setempat yang telah menekuni usaha ini selama belasan tahun, mengatakan bahwa proses pembuatan keripik tette memang membutuhkan ketelatenan. Menurutnya, ketebalan hasil tumbukan sangat menentukan kerenyahan keripik saat digoreng.

“Kalau menumbuknya terlalu tebal, nanti hasilnya kurang renyah. Tapi kalau terlalu tipis, bisa mudah pecah. Jadi memang harus pakai perasaan dan pengalaman,” ujar Siti saat ditemui di rumah produksinya”

Setelah ditumbuk, lembaran singkong dijemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering. Cuaca panas khas Madura justru menjadi keuntungan tersendiri bagi para pengrajin karena membantu proses pengeringan berlangsung lebih cepat. Keripik yang telah kering kemudian digoreng dalam minyak panas selama beberapa saat hingga berubah warna menjadi krem pucat dan bertekstur renyah.

Menurut Siti, meskipun cara pembuatannya terlihat sederhana, menjaga kualitas rasa tetap menjadi tantangan tersendiri. Ia mengaku tidak menggunakan campuran tepung atau bahan pengawet dalam produksinya agar cita rasa asli singkong tetap terjaga.

“Dari dulu kami buatnya tetap seperti ini, tidak pakai campuran macam-macam. Biar orang yang makan tetap merasakan gurih asli dari ketelanya,” katanya.

Tak hanya menjadi camilan sehari-hari, keripik tette juga memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan sosial masyarakat Madura. Camilan ini kerap hadir dalam berbagai acara keluarga, hajatan, hingga menjadi pelengkap saat menjamu tamu. Keripik tette biasanya dinikmati begitu saja atau dipadukan dengan rujak petis, sambal, maupun lauk pendamping nasi.

Seorang penikmat kuliner tradisional, Fahri Rahman (27), mengaku keripik tette menjadi salah satu camilan yang selalu ia cari setiap kali pulang ke Madura. Menurutnya, ada rasa khas yang tidak bisa ditemukan pada camilan modern.

“Keripik tette itu sederhana, tapi justru di situ letak istimewanya. Rasanya gurih alami, teksturnya renyah, dan ada nilai nostalgia juga. Saya biasanya makan pakai rujak petis, rasanya beda sekali,” ujarnya.

Fahri menilai keripik tette bukan hanya soal makanan, melainkan bagian dari identitas kuliner Madura yang perlu dipertahankan. Di tengah banyaknya produk makanan modern dengan kemasan menarik, ia melihat keripik tette masih punya daya tarik karena menawarkan rasa yang otentik dan proses pembuatan yang sarat nilai tradisi.

Keberadaan keripik tette juga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat desa. Banyak industri rumahan memproduksi camilan ini sebagai sumber penghasilan tambahan keluarga. Tidak sedikit ibu rumah tangga yang terlibat dalam proses produksi, mulai dari mengupas singkong, menumbuk, menjemur, hingga mengemas hasil jadi.

Seiring perkembangan zaman, pemasaran keripik tette pun mulai menyesuaikan diri. Jika dulu penjualannya hanya mengandalkan pasar tradisional atau pesanan tetangga sekitar, kini sebagian pelaku usaha mulai memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Kemasan produk pun perlahan dibuat lebih modern agar mampu bersaing di pasar oleh-oleh dan camilan khas daerah.

Meski begitu, para pengrajin tetap berupaya menjaga ciri khas keripik tette agar tidak kehilangan jati dirinya. Beberapa produsen memang mulai menambahkan varian rasa seperti pedas manis atau balado, tetapi rasa asli singkong tumbuk tetap menjadi pilihan utama yang paling dicari pembeli.

Menjelang sore, aktivitas produksi di rumah-rumah pengrajin belum juga berhenti. Tumpukan keripik mentah yang telah kering disiapkan untuk digoreng atau dijual ke pasar keesokan hari. Dari proses sederhana itu, keripik tette terus hidup sebagai bukti bahwa kuliner tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat.

Di tengah gempuran camilan pabrikan, keripik tette menunjukkan bahwa makanan lokal tidak selalu kalah bersaing. Justru dari kesederhanaannya, tersimpan cerita tentang ketekunan, warisan keluarga, dan kecintaan masyarakat terhadap cita rasa kampung halaman. Bagi warga Madura, keripik tette bukan sekadar pengganjal lapar, melainkan bagian dari memori, budaya, dan identitas yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

 

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *